fdakwah@uinkhas.ac.id -

Mengenang Dr. Minan Jauhari: Jejak Tenang yang Tak Pernah Hilang

Home >Berita >Mengenang Dr. Minan Jauhari: Jejak Tenang yang Tak Pernah Hilang
Diposting : Selasa, 03 Feb 2026, 05:45:11 | Dilihat : 190 kali
Mengenang Dr. Minan Jauhari: Jejak Tenang yang Tak Pernah Hilang


MEDICEN FADA - Senin pagi itu, 2 Februari 2026, waktu seakan berhenti sejenak. Udaranya menjadi lebih berat, langkah terasa lebih pelan, dan kabar duka itu terdengar seperti gema yang enggan berhenti: Dr. Minan Jauhari, M.Si., Wakil Dekan III Fakultas Dakwah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, telah berpulang.

Namun kepergian beliau bukan sekadar berita kematian yang lewat di linimasa media sosial atau sekadar nama yang disebut dalam doa. Ini adalah kehilangan yang menyentuh relung hati banyak orang. Mereka yang pernah merasakan kehadiran teduhnya, atau sekadar mendengar tutur lembutnya dalam satu ruang pertemuan.

Duka ini datang tanpa gelegar. Ia hadir sebagai kesunyian yang panjang dan hening. Seperti ada bagian dari kehidupan sehari-hari yang diam-diam menghilang. Selama ini mungkin tak banyak yang menyadari betapa pentingnya sosok beliau. Karena, ia tidak mencolok, tidak mencari sorotan. Tapi justru dari ketidakterlihatannya itu, ia meneduhkan. Kini, ketika sosok itu tak lagi ada, kekosongan itu terasa nyata.

Pak Minan adalah pribadi yang bicara dengan hati, bukan hanya dengan kata. Ucapannya tidak pernah tergesa, ekspresinya tidak meledak-ledak. Ia adalah contoh nyata dari ketenangan yang menenangkan. Dalam dunia psikologi, beliau adalah manifestasi dari seseorang dengan emotional regulation yang matang. Yakni, mampu mengelola emosi, tanpa menekan, tanpa meledakkan. Di tengah dunia akademik yang sering gaduh oleh ego dan kepentingan, beliau menjadi penyeimbang yang hening namun kokoh.

Ia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga dewasa secara emosional. Dan dari sinilah datang rasa aman yang menyelimuti siapa pun yang berada di sekitarnya.

Dalam setiap percakapan, beliau hadir bukan hanya sebagai pendengar, tetapi juga sebagai penerima. Tidak ada penghakiman, tidak ada stigma. Hanya penerimaan tulus dan utuh. Dalam istilah psikologi humanistik, ini disebut unconditional positive regard: menghargai orang lain tanpa syarat, tanpa mengurangi martabatnya. Di ruang-ruang kerja, kelas, atau bahkan hanya di lorong kampus, kehadiran beliau menjadi ruang aman. Tempat kita bisa menjadi diri sendiri tanpa takut ditertawakan, dibungkam, atau diremehkan.

Dan di sinilah letak duka yang sesungguhnya: kita bukan hanya kehilangan seorang dosen, wakil dekan, atau akademisi. Kita kehilangan rasa aman. Kita kehilangan contoh diam-diam tentang bagaimana menjadi manusia.

Kepergiannya juga mengingatkan kita pada kefanaan. Bahwa hidup bukan soal seberapa keras suara kita terdengar, tetapi seberapa tulus jejak yang kita tinggalkan. Tanpa banyak bicara, tanpa deklarasi, beliau telah menjawab pertanyaan yang sering kita hindari: bagaimana hidup yang layak dikenang?

Jawabannya terletak pada konsistensi. Pada karakter. Pada kebaikan yang tenang. Dan kini, ketika beliau tiada, kita sadar bahwa karakter seperti itu tidak tumbuh dalam semalam. Ia lahir dari pergulatan panjang yang tak terlihat. Dari kesabaran, dari jatuh bangun, dari doa yang tak pernah diumbar.

Barangkali, begitulah cara orang baik berpamitan, tanpa kegaduhan, tanpa keramaian. Yang ditinggalkan bukan hanya kesedihan, tetapi kesadaran: bahwa ketulusan tidak butuh panggung. Bahwa kelembutan bisa jauh lebih kuat daripada kekuasaan. Bahwa diam yang teduh kadang lebih lantang dari seribu pidato.

Kini yang tersisa adalah kenangan. Tapi semoga kenangan itu tak hanya tinggal sebagai nostalgia. Semoga ia menjadi cermin, agar kita belajar menjadi lebih sabar, lebih manusiawi, lebih tulus, seperti beliau.

Dan semoga, setiap kebaikan yang pernah beliau tanam menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Sebab orang seperti beliau tidak benar-benar pergi. Ia hidup, dalam sikap kita yang belajar menjadi lebih baik karenanya.

Penulis: Muhlisin Ar Rohman, Mahasiswa Psikologi Islam UIN KHAS Jember

Foto: Abdul Choliq

Editor: Abdul Choliq, Firdaus Dwi, Nuzul Ahadiyanto

Berita Terbaru

Mengenang Dr. Minan Jauhari: Jejak Tenang yang Tak Pernah Hilang
03 Feb 2026By dakwah
Angkat Feminisme, Lulusan KPI Raih Prestasi Skripsi Terbaik
27 Jan 2026By dakwah
Filosofi Bambu di Balik Predikat Yudisi Terbaik Fakultas Dakwah
27 Jan 2026By dakwah

Agenda

Informasi Terbaru

Belum ada Informasi Terbaru

Lowongan

;