fdakwah@uinkhas.ac.id -

Salat Gerhana Bulan Bersama Diaspora di Kaledonia Baru

Home >Berita >Salat Gerhana Bulan Bersama Diaspora di Kaledonia Baru
Diposting : Jumat, 20 Mar 2026, 18:22:38 | Dilihat : 23 kali
Salat Gerhana Bulan Bersama Diaspora di Kaledonia Baru


NOUMEA, MEDICEN FADA - Suasana malam Ramadan 1447 H di Noumea terasa sangat berbeda. Di balik sejuknya udara ibu kota Kaledonia Baru pada Selasa (3/3/2026), kehangatan ukhuwah memancar kuat. Berikut kisah Nasirudin Al Ahsani, dosen Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember yang sedang menjalankan tugas dakwah di Kaledonia Baru.

 

Malam itu, usai menunaikan salat Tarawih di aula KJRI Noumea, para jamaah tak lantas beranjak pulang. Mereka bertahan menanti fenomena alam yang langka, gerhana bulan, sekaligus ingin menunaikan salat gerhana berjamaah.

 

Saya yang bertugas sebagai Dai Ambassador Dompet Dhuafa, ikut merasakan kebahagiaan bersama warga Indonesia yang ada di perantauan. Hadir pula malam itu keluarga besar KJRI, Asosiasi Dakwah, dan PUIMIK. Termasuk Konjen RI Bambang Gunawan.

 

Lelah usai Tarawih tak menyurutkan niat mereka. Semuanya antusias menyambung ibadah. Ruku' dan sujud dilakukan dengan durasi yang lebih lama. Para jamaah menundukkan diri dengan khusyuk di hadapan Sang Pencipta.

 

"Jarang-jarang kita bisa salat gerhana bareng seperti ini di perantauan," ucap Ridlo, salah satu jamaah, dengan mata berbinar.

 

Sementara di dalam aula terasa syahdu, langit Noumea menyuguhkan pertunjukan agung. Bulan perlahan mulai berubah wujud. Sejak pukul 19:44 waktu lokal, fase penumbra dimulai. Bulan memasuki bayangan luar bumi, meski redupnya belum kentara.

 

Perubahan nyata mulai terlihat pada pukul 20:50. Bayangan gelap perlahan menutupi permukaan bulan. Indra, salah seorang jamaah, tak henti-hentinya bertakbir. Ia terus memantau pergerakan bulan dari pelataran aula bersama jamaah lain.

 

"Fase awalnya sungguh menakjubkan. Seluruh bagian bulan masuk ke bayangan Bumi tepat pada pukul 22:04," tutur Indra antusias.

 

Puncaknya terjadi pukul 22:33. Bulan yang tadinya putih terang, berubah memancarkan warna jingga pekat yang eksotis. "Subhanallah, warnanya merah pekat. Ini bukti mutlak presisi ketetapan Allah di alam semesta," tambah Indra takjub sembari menatap langit.

 

Setelah puncak terlewati, bulan perlahan keluar dari bayangan inti Bumi. Fase akhir total ini tercatat pada pukul 23:02. "Melihat pergerakan yang teratur ini menyadarkan kita. Betapa kerdilnya manusia di hadapan alam semesta," gumam Budianto yang ikut mengamati.

 

Bulan sepenuhnya lepas dari bayangan inti pada pukul 00:17 dini hari. Fase akhir sebagian pun sukses terlewati. Seluruh rangkaian gerhana akhirnya benar-benar usai. Langit kembali normal saat akhir penumbra terlewati pada pukul 01:23.

 

Durasi gerhana yang teramat panjang menjadi sorotan utama. Waktu berjam-jam itu adalah momen emas untuk bermuhasabah. Fenomena langit memukau ini bukan sekadar tontonan visual. Ada pesan spiritual mendalam yang coba digali bersama.

 

Usai salat gerhana, saya melangkah ke mimbar menyampaikan khutbah. Saya sampaikan bahwa gerhana bukan hanya kejadian astronomi. Ini adalah tanda nyata kebesaran Allah yang harus direnungkan.

 

"Rasulullah menganjurkan kita memperbanyak zikir. Ini saat yang tepat untuk memohon ampunan dan bersedekah," imbau saya dengan suara lembut.

 

Saya mengibaratkan bayangan bumi yang menutupi bulan dengan sebuah metafora tentang dosa yang kerap menutupi kejernihan hati manusia. "Saat cahaya bulan tertutup gelap, jadikan itu pengingat. Mari tutupi dosa-dosa kita dengan taubat nasuha," pesan saya bernada getar.

 

Malam itu, diaspora Indonesia di Kaledonia Baru menemukan kedamaian. Jauh dari tanah air tak membuat iman mereka luntur.

 

"Hati rasanya sangat tenang dan lega. Khutbahnya sangat menyentuh dan mengingatkan kita untuk terus bermuhasabah," tutur Budianto tersenyum.

 

Dari balik bayangan gerhana di Noumea, cahaya ukhuwah justru semakin terang. Membawa ketenangan hingga fajar menyingsing. (*)

 

Penulis: Nasirudin Al Ahsani

Foto: Nasirudin Al Ahsani

Editor: Abdul Choliq, Firdaus Dwi Cahyo, Nuzul Ahadiyanto

 

Berita Terbaru

Salat Gerhana Bulan Bersama Diaspora di Kaledonia Baru
20 Mar 2026By dakwah
Rektor: Jadikan Quran sebagai Satu-satunya Pedoman Hidup
11 Mar 2026By dakwah
Rektor: Dakwah Harus Bangun Jembatan, Bukan Jurang
05 Mar 2026By dakwah

Agenda

Informasi Terbaru

Belum ada Informasi Terbaru

Lowongan

;