Potret Pilu 130 Tahun Komunitas Jawa di New Caledonia
Rambutnya pirang, kulitnya putih kemerahan. Tapi, siapa sangka mereka sangat fasih bahasa Jawa ngoko. Itulah beberapa potret warga di New Caledonia yang ditemui Nasirudin Al Ahsani, Dai Ambassador Dompet Dhuafa. Berikut kisah dosen Fakultas Dakwah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang Ramadan ini berkesempatan berdakwah di sana.
KALEDONIA BARU, MEDICEN FADA
Ribuan kilometer dari tanah air, gema Bahasa Jawa terdengar lamat-lamat. Untaian kata-kata itu bersahutan bersama nyanyian lagu berbahasa Prancis. Sekelompok warga di bawah langit cerah Noumea, ibu kota New Caledonia terlihat sedang menggelar hajat. Mereka tampak riang gembira berkumpul di tanah lapang yang dipakai sebagai lokasi hajatan.
Hari itu, angin berembus membawa aroma lautan dan bunga-bunga persembahan. Ratusan warga keturunan Jawa berkumpul khidmat merayakan 130 tahun jejak leluhur mereka di tanah rantau. Tepatnya berada di Kaledonia Baru, sebuah wilayah di kawasan Oseania yang menjadi otonomi khusus di bawah kendali negara Perancis. Wilayah ini terletak di Pasifik barat daya, sekitar 1.200 km sebelah timur Australia.
Nasir hadir di tengah-tengah warga keturunan Jawa sekaligus ikut menyaksikannya langsung prosesi acara peringatan 130 Tahun Komunitas Jawa di New Caledonia. Hatinya terenyuh melihat potret panjang diaspora yang terus bertahan menjaga identitas budayanya di ujung dunia.
Rangkaian bunga diletakkan perlahan di depan monumen peringatan yang membisu. Mengenang keringat, darah, dan air mata generasi pertama yang tiba sebagai pekerja kolonial.
Masa lalu mereka amat kelam dan memilukan. Dulu, leluhur yang sakit kerap diperlakukan tak manusiawi oleh penjajah Belanda maupun Prancis di tanah asing ini.
Sejarah pahit itu mengiris hati siapa saja yang mendengarnya. Namun, derita panjang itulah yang membentuk mental baja yang kini diwariskan kepada anak cucu.
Wajah-wajah Jawa kini mulai berbaur dengan corak budaya Barat. Namun ajaibnya, bahasa Jawa ngoko yang lugas masih fasih terucap dari bibir mereka sehari-hari.
“Percakapan memakai bahasa Jawa ngoko yang lugas menjadi pengalaman unik. Karena bentuk bahasa halus justru kurang dipahami di lingkungan sini,” tutur Nasirudin dengan takjub.
Di balik kehangatan silaturahmi itu, terselip sebuah kegelisahan mendalam. Dosen alumnus Al-Azhar Mesir ini melihat langsung bagaimana generasi muda mulai menjauh dari kewajiban dan praktik ibadah harian.
“Sebagian generasi muda terlihat mulai jauh dari agama. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi kami para dai,” jelas Nasirudin dengan tatapan nanar.
Meski begitu, sisa-sisa tradisi Islam leluhur tidak sepenuhnya pudar. Lembaga pengurusan jenazah setempat tetap konsisten menggemakan tahlil dan azan di tengah modernisasi New Caledonia.
Identitas "Jawa" di sini bahkan diakui lebih melekat daripada "Indonesia". Sebab, gelombang migrasi penuh derita itu terjadi jauh sebelum Sang Saka Merah Putih berkibar.
Pria asal Bojonegoro ini banyak berbincang dengan tokoh komunitas yang ramah. Ia mendengar kisah generasi awal kelahiran lokal yang akrab disapa dengan sebutan "Nyauli" oleh masyarakat setempat.
Keturunan "Nyauli" ini kini bahkan telah menyebar jauh hingga ke New Zealand. Bukti nyata ketangguhan perantau Jawa yang tak lelah mencari penghidupan lebih baik.
Ada pula kisah seorang warga bernama A. Boedjari Sunarto mengabdi sebagai sopir pejabat kota Noumea. Ia sangat dihormati karena kemahirannya berbicara dalam bahasa Prancis sekaligus bahasa Jawa.
Menjelang bulan suci, secercah harapan kembali menyala. Kerinduan akan siraman rohani mulai terlihat dari antusiasme warga menyambut kedatangan pendakwah dari Nusantara.
“Antusiasme masyarakat sangat terasa jelang Ramadan. Banyak yang menanyakan kedatangan dai dan berharap adanya pembinaan agama di Noumea,” ucap Nasirudin tersenyum lega.
Peringatan 130 tahun ini jelas bukan sekadar ajang nostalgia. Dari perihnya sejarah buruh kolonial, mereka perlahan bangkit menjadi komunitas lintas generasi yang tangguh.
Perubahan zaman dan modernitas memang tak bisa dilawan. New Caledonia akan terus berkembang dan perlahan mengubah gaya hidup para keturunan pekerja kontrak tersebut.
Namun di dalam dada, nyala iman dan akar identitas Jawa itu tak boleh padam. Tujuannya satu, agar jati diri leluhur tetap utuh terjaga. (*)
Foto : Dokumen Nasarudin Al Ahsani
Editor : Abdul Choliq, Firdaus Dwi C, Nuzul Ahadiyanto



