JEMBER,
MEDICEN FADA – Bagi
Zainal Abidin, berjualan cilok bukan sekadar mencari nafkah. Di balik setiap
cilok yang dijajakannya, tersimpan kenangan tentang perempuan yang pernah
mendampinginya menjalani kehidupan. Perempuan itu adalah sang istri, yang kini
telah tiada, tetapi meninggalkan sebuah harapan sederhana yang terus dijaganya.
Harapan
itulah yang membuat Zainal tetap bertahan menjalankan usaha Cilok Ibu Saada di
depan Masjid Baitul Amin, tak jauh dari kawasan Alun-Alun Jember.
Sebelum
menekuni usaha cilok, Zainal pernah mencoba peruntungan dengan berjualan bakso.
Namun, usaha tersebut belum mendapatkan sambutan masyarakat seperti yang
diharapkannya.
Di tengah
perjalanan hidupnya, sang istri jatuh sakit. Dalam kondisi kesehatannya yang
menurun, perempuan yang dicintainya itu pernah menyampaikan keinginan
sederhana. Apabila kelak sembuh, ia ingin kembali berjualan cilok.
Sayangnya,
takdir berkata lain. Sang istri lebih dahulu berpulang sebelum keinginan
tersebut terwujud.
Kepergian
sang istri menyisakan kehilangan sekaligus sebuah harapan yang belum sempat
diwujudkan. Bagi Zainal, keinginan itu bukan sesuatu yang harus ikut terkubur
bersama kepergian orang tercinta.
Ia
memilih meneruskannya.
Sejak
2024, Zainal menjalankan usaha cilok yang pernah menjadi harapan istrinya. Usaha
sederhana tersebut kini bukan hanya menjadi sumber penghidupan, melainkan juga
cara menjaga kenangan dan melanjutkan sesuatu yang pernah diimpikan bersama.
Berjuang
di Tengah Keterbatasan
Menjalankan
usaha kecil tentu bukan perkara mudah. Zainal harus menghadapi berbagai
tantangan, termasuk persaingan usaha dan perkembangan teknologi pemasaran yang
semakin pesat.
Di saat
banyak pelaku usaha mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan
produknya, Zainal masih menghadapi keterbatasan pengetahuan mengenai pemasaran
digital.
Meski
demikian, ia terus berusaha mempertahankan dagangannya. Dari usaha yang
dijalankannya, Zainal mengaku mampu memperoleh nilai penjualan hingga dua kali
lipat dari modal yang dikeluarkan.
Hasil
tersebut menjadi penyemangat untuk terus bertahan. Apalagi, usaha kecil yang
ditekuninya memiliki arti penting bagi kehidupan keluarganya.
Di balik
perjuangannya sebagai pedagang cilok, tersimpan pula kebanggaan tersendiri.
Zainal berhasil mengantarkan salah seorang anaknya menyelesaikan pendidikan
hingga meraih gelar sarjana di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq
(UIN KHAS) Jember.
Bagi
seorang ayah yang menggantungkan penghidupan dari usaha sederhana, keberhasilan
anak menempuh pendidikan tinggi menjadi bagian berharga dari perjalanan
hidupnya.
Perjuangan
Zainal memperlihatkan bahwa pekerjaan sederhana tidak menghalangi seseorang
untuk menyimpan harapan besar bagi masa depan keluarga.
Ketika
Mahasiswa Hadir Membawa Harapan
Kisah
Zainal kemudian menarik perhatian mahasiswa Program Studi Komunikasi dan
Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember.
Pada
Kamis (5/11/2026), mahasiswa semester lima dari kelas KPI 1 dan KPI 3 melakukan
observasi sekaligus pendampingan terhadap usaha Cilok Ibu Saada.
Kegiatan
tersebut merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah Media Sosial
Entrepreneurship yang diampu Firdaus Kurniawan Dwi Cahyono, S.E., M.I.Kom.
Melalui
kegiatan itu, mahasiswa tidak hanya mempelajari bagaimana sebuah usaha kecil
dijalankan, tetapi juga berusaha memahami persoalan yang dihadapi pemiliknya.
Keterbatasan
Zainal dalam memanfaatkan teknologi digital menjadi salah satu perhatian
mereka.
Berbekal
pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan, mahasiswa berupaya membantu
memperkenalkan Cilok Ibu Saada melalui media sosial.
Pendampingan
tersebut mencakup pengenalan penggunaan media sosial, pembuatan konten promosi,
publikasi produk, serta bantuan teknis pemasaran secara daring.
Harapannya,
usaha yang selama ini mengandalkan penjualan secara langsung dapat menjangkau
lebih banyak calon pembeli melalui ruang digital.
Bagi
mahasiswa, kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman belajar yang tidak
selalu dapat diperoleh dari ruang kelas.
Mereka
berhadapan langsung dengan kenyataan bahwa di balik sebuah usaha kecil terdapat
manusia dengan perjuangan, keterbatasan, dan harapan yang patut mendapat
perhatian.
Belajar
Komunikasi, Belajar Memahami Kehidupan
Pendampingan
terhadap Zainal memperlihatkan bahwa keterampilan komunikasi tidak hanya
dibutuhkan untuk membuat konten menarik atau mengelola media sosial.
Lebih
dari itu, kemampuan komunikasi dapat digunakan untuk membantu masyarakat yang
belum memiliki kesempatan dan pengetahuan memadai dalam memanfaatkan
perkembangan teknologi.
Melalui
kegiatan ini, mahasiswa KPI belajar bahwa keberhasilan komunikasi bukan
semata-mata diukur dari seberapa luas pesan tersebar, tetapi juga dari manfaat
yang dapat dihadirkan bagi orang lain.
Bagi
Zainal, kehadiran mahasiswa membuka kesempatan untuk mengenal cara baru
memperkenalkan dagangannya. Sementara bagi mahasiswa, perjumpaan tersebut
menghadirkan pelajaran tentang keteguhan hati, tanggung jawab keluarga, dan
arti sebuah pengabdian.
Di depan
Masjid Baitul Amin, Zainal masih melanjutkan perjuangannya melalui Cilok Ibu
Saada.
Usaha itu
mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, di baliknya tersimpan
kisah seorang suami yang menjaga harapan mendiang istrinya, sekaligus seorang
ayah yang terus berjuang demi keluarganya.
Kini,
melalui sentuhan keterampilan digital mahasiswa KPI UIN KHAS Jember, usaha
tersebut memperoleh kesempatan untuk dikenal lebih luas.
Sebab,
bagi Zainal, cilok yang dijajakannya bukan hanya tentang dagangan yang harus
terjual. Ada kenangan yang ingin terus dijaga, amanah yang ingin ditunaikan,
dan kehidupan yang harus terus diperjuangkan.
Penulis:
Rizky Hidayatullah
Foto: Rizky Hidayatullah
Editor: Abdul Choliq, Firdaus Dwi Cahyo