Mahasiswa KPI UIN KHAS Bantu Perkenalkan Usaha Cilok Lewat Media Digital

5 November 2026, 16:20 | admin2 | 15 hits | Akademik

JEMBER, MEDICEN FADA – Bagi Zainal Abidin, berjualan cilok bukan sekadar mencari nafkah. Di balik setiap cilok yang dijajakannya, tersimpan kenangan tentang perempuan yang pernah mendampinginya menjalani kehidupan. Perempuan itu adalah sang istri, yang kini telah tiada, tetapi meninggalkan sebuah harapan sederhana yang terus dijaganya.

Harapan itulah yang membuat Zainal tetap bertahan menjalankan usaha Cilok Ibu Saada di depan Masjid Baitul Amin, tak jauh dari kawasan Alun-Alun Jember.

Sebelum menekuni usaha cilok, Zainal pernah mencoba peruntungan dengan berjualan bakso. Namun, usaha tersebut belum mendapatkan sambutan masyarakat seperti yang diharapkannya.

Di tengah perjalanan hidupnya, sang istri jatuh sakit. Dalam kondisi kesehatannya yang menurun, perempuan yang dicintainya itu pernah menyampaikan keinginan sederhana. Apabila kelak sembuh, ia ingin kembali berjualan cilok.

Sayangnya, takdir berkata lain. Sang istri lebih dahulu berpulang sebelum keinginan tersebut terwujud.

Kepergian sang istri menyisakan kehilangan sekaligus sebuah harapan yang belum sempat diwujudkan. Bagi Zainal, keinginan itu bukan sesuatu yang harus ikut terkubur bersama kepergian orang tercinta.

Ia memilih meneruskannya.

Sejak 2024, Zainal menjalankan usaha cilok yang pernah menjadi harapan istrinya. Usaha sederhana tersebut kini bukan hanya menjadi sumber penghidupan, melainkan juga cara menjaga kenangan dan melanjutkan sesuatu yang pernah diimpikan bersama.

Berjuang di Tengah Keterbatasan

Menjalankan usaha kecil tentu bukan perkara mudah. Zainal harus menghadapi berbagai tantangan, termasuk persaingan usaha dan perkembangan teknologi pemasaran yang semakin pesat.

Di saat banyak pelaku usaha mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produknya, Zainal masih menghadapi keterbatasan pengetahuan mengenai pemasaran digital.

Meski demikian, ia terus berusaha mempertahankan dagangannya. Dari usaha yang dijalankannya, Zainal mengaku mampu memperoleh nilai penjualan hingga dua kali lipat dari modal yang dikeluarkan.

Hasil tersebut menjadi penyemangat untuk terus bertahan. Apalagi, usaha kecil yang ditekuninya memiliki arti penting bagi kehidupan keluarganya.

Di balik perjuangannya sebagai pedagang cilok, tersimpan pula kebanggaan tersendiri. Zainal berhasil mengantarkan salah seorang anaknya menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember.

Bagi seorang ayah yang menggantungkan penghidupan dari usaha sederhana, keberhasilan anak menempuh pendidikan tinggi menjadi bagian berharga dari perjalanan hidupnya.

Perjuangan Zainal memperlihatkan bahwa pekerjaan sederhana tidak menghalangi seseorang untuk menyimpan harapan besar bagi masa depan keluarga.

Ketika Mahasiswa Hadir Membawa Harapan

Kisah Zainal kemudian menarik perhatian mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember.

Pada Kamis (5/11/2026), mahasiswa semester lima dari kelas KPI 1 dan KPI 3 melakukan observasi sekaligus pendampingan terhadap usaha Cilok Ibu Saada.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah Media Sosial Entrepreneurship yang diampu Firdaus Kurniawan Dwi Cahyono, S.E., M.I.Kom.

Melalui kegiatan itu, mahasiswa tidak hanya mempelajari bagaimana sebuah usaha kecil dijalankan, tetapi juga berusaha memahami persoalan yang dihadapi pemiliknya.

Keterbatasan Zainal dalam memanfaatkan teknologi digital menjadi salah satu perhatian mereka.

Berbekal pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan, mahasiswa berupaya membantu memperkenalkan Cilok Ibu Saada melalui media sosial.

Pendampingan tersebut mencakup pengenalan penggunaan media sosial, pembuatan konten promosi, publikasi produk, serta bantuan teknis pemasaran secara daring.

Harapannya, usaha yang selama ini mengandalkan penjualan secara langsung dapat menjangkau lebih banyak calon pembeli melalui ruang digital.

Bagi mahasiswa, kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman belajar yang tidak selalu dapat diperoleh dari ruang kelas.

Mereka berhadapan langsung dengan kenyataan bahwa di balik sebuah usaha kecil terdapat manusia dengan perjuangan, keterbatasan, dan harapan yang patut mendapat perhatian.

Belajar Komunikasi, Belajar Memahami Kehidupan

Pendampingan terhadap Zainal memperlihatkan bahwa keterampilan komunikasi tidak hanya dibutuhkan untuk membuat konten menarik atau mengelola media sosial.

Lebih dari itu, kemampuan komunikasi dapat digunakan untuk membantu masyarakat yang belum memiliki kesempatan dan pengetahuan memadai dalam memanfaatkan perkembangan teknologi.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KPI belajar bahwa keberhasilan komunikasi bukan semata-mata diukur dari seberapa luas pesan tersebar, tetapi juga dari manfaat yang dapat dihadirkan bagi orang lain.

Bagi Zainal, kehadiran mahasiswa membuka kesempatan untuk mengenal cara baru memperkenalkan dagangannya. Sementara bagi mahasiswa, perjumpaan tersebut menghadirkan pelajaran tentang keteguhan hati, tanggung jawab keluarga, dan arti sebuah pengabdian.

Di depan Masjid Baitul Amin, Zainal masih melanjutkan perjuangannya melalui Cilok Ibu Saada.

Usaha itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, di baliknya tersimpan kisah seorang suami yang menjaga harapan mendiang istrinya, sekaligus seorang ayah yang terus berjuang demi keluarganya.

Kini, melalui sentuhan keterampilan digital mahasiswa KPI UIN KHAS Jember, usaha tersebut memperoleh kesempatan untuk dikenal lebih luas.

Sebab, bagi Zainal, cilok yang dijajakannya bukan hanya tentang dagangan yang harus terjual. Ada kenangan yang ingin terus dijaga, amanah yang ingin ditunaikan, dan kehidupan yang harus terus diperjuangkan.

Penulis: Rizky Hidayatullah

Foto: Rizky Hidayatullah

Editor: Abdul Choliq, Firdaus Dwi Cahyo

Berita Terbaru