Enam Riwayat, Satu Tekad: Perjuangan Mahasiswi KPI UIN KHAS Menjadi Juara Qiraat Murottal Sab’ah

27 Oktober 2026, 05:31 | admin2 | 102 hits | Akademik

JEMBER, MEDICEN FADA — Sejak Mei 2026, akhir pekan Queen Fahriza Putri nyaris tak pernah benar-benar kosong. Sabtu dan Minggu yang bagi sebagian orang menjadi waktu beristirahat, justru ia gunakan untuk belajar dan berlatih Qiraat Murottal Sab’ah. Seusai salat, materi yang didapat dari pembimbing kembali ia ulang sendiri di rumah. Enam riwayat dari tiga imam harus dipelajari satu demi satu.

Ketika perkuliahan sebagai mahasiswa baru mulai menyita waktu, Queen masih harus membagi konsentrasi antara tugas kuliah, latihan, dan membimbing adik-adik yang mempersiapkan lomba Syarhil Qur’an. Lelah tentu ada, tetapi keinginannya untuk terus tumbuh bersama Al-Qur’an membuatnya bertahan.

Jerih payah itu akhirnya berbuah manis. Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) angkatan 2026 Fakultas Dakwah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember tersebut berhasil meraih juara I Qiraat Murottal Sab’ah kategori remaja putri dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Jember.

Yang membuat pencapaian itu terasa semakin istimewa, lomba tersebut merupakan pengalaman pertama Queen mengikuti cabang Qiraat Murottal Sab’ah.

Sebelumnya, dunia Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) bukanlah sesuatu yang asing baginya. Sejak kecil Queen telah menekuni MTQ dan lebih banyak berkecimpung dalam cabang Syarhil Qur’an. Namun batasan usia pada cabang yang sebelumnya ia tekuni membuat Queen harus menentukan pilihan: berhenti atau mencoba jalan baru.

Ia memilih yang kedua. Queen memberanikan diri keluar dari zona nyaman dan belajar Qiraat Murottal Sab’ah. Keputusan tersebut berarti ia harus memulai proses baru dengan tingkat kesulitan yang berbeda.

“Setiap imam memiliki dua riwayat yang berbeda. Jadi, ada enam riwayat yang harus dipelajari dan dipersiapkan. Karena itu, perlu waktu jauh-jauh hari supaya benar-benar menguasainya,” ungkap Queen.

Belajar dari Mei, Berlatih Setiap Akhir Pekan

Persiapan dimulai sekitar lima bulan sebelum perlombaan. Queen belajar secara rutin bersama Ustaz Suyono, pembina kafilah MTQ Kabupaten Jember. Latihan biasanya berlangsung pada Sabtu dan Minggu, kemudian semakin intensif ketika hari perlombaan semakin dekat.

Latihan bersama pembimbing bukan satu-satunya ikhtiar yang ia lakukan. Di rumah, Queen kembali membuka dan mengulang materi yang sudah dipelajari. Selepas salat menjadi salah satu waktu yang biasa digunakannya untuk mengulang bacaan. Orang tuanya turut mengikuti perkembangan proses belajar tersebut.

Pengulangan demi pengulangan menjadi cara Queen memperkuat ingatan sekaligus membedakan masing-masing riwayat yang harus dikuasainya.

Proses itu menjadi semakin berat ketika memasuki bulan terakhir persiapan. Pada saat yang sama, Queen mulai menjalani kehidupan sebagai mahasiswa baru UIN KHAS Jember.

Rutinitasnya bertambah. Ada perkuliahan, tugas kampus, latihan untuk perlombaan, dan tanggung jawab mendampingi adik-adik yang mempersiapkan diri mengikuti lomba Syarhil Qur’an.

Tidak semua hal dapat dijalani dengan mudah. Namun Queen memilih tetap melangkah.

Baginya, mengikuti kompetisi bukan semata-mata tentang mengejar piala. Perlombaan menjadi tempat untuk mengukur kemampuan, mengetahui kekurangan, dan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.

“Motivasi saya ingin terus berlanjut di dunia MTQ dan mengamalkan ilmu yang sudah saya dapatkan. Saya juga ingin menambah pengalaman dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi dari proses belajar selama ini,” tuturnya.

Tak Menyangka Langsung Juara Pertama

Hari perlombaan akhirnya tiba. Qiraat Murottal Sab’ah HSN 2026 digelar di musala Kantor Pemerintah Kabupaten Jember. Queen harus berhadapan dengan peserta lain yang juga telah mempersiapkan diri, termasuk peserta dari lingkungan pesantren yang memiliki pengalaman di bidang qiraat.

Bagi Queen, tantangannya bahkan terasa lebih besar karena ia sebagai pendatang baru di cabang tersebut. Ia tidak memasang keyakinan berlebihan bahwa pengalaman pertamanya akan langsung menghasilkan gelar juara.

Namun hasil perlombaan berkata lain. Namanya berada di posisi pertama. “Pastinya sangat bersyukur, bahagia, dan tidak menyangka. Apalagi ini pengalaman pertama saya mengikuti cabang Murottal Sab’ah, tetapi langsung mendapatkan juara satu,” ujarnya.

Kemenangan itu menjadi semacam jawaban atas berbulan-bulan proses yang ia jalani: akhir pekan yang digunakan untuk berlatih, materi yang terus diulang selepas salat, kesibukan kuliah yang harus dibagi dengan latihan, dan keberanian mencoba sesuatu yang belum pernah ia tekuni.

Tetapi Queen tidak ingin menempatkan keberhasilan tersebut hanya sebagai hasil usahanya seorang diri. Ia menyadari ada keluarga yang terus memberikan dukungan dan pembimbing yang mendampinginya selama proses belajar.

Sebagai mahasiswa baru, Queen bahkan belum sempat melaporkan keikutsertaannya dalam perlombaan kepada pihak fakultas. Setelah kabar kemenangan tersebut diketahui, ia memperoleh apresiasi dari Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember.

Pernah Gagal, tetapi Tidak Berhenti

Ada pengalaman lain yang membuat kemenangan itu memiliki makna lebih dalam bagi Queen. Sebelum meraih juara pertama tersebut, ia pernah menghadapi kegagalan dalam perjalanan menuju MTQ Nasional.

Kegagalan itu tidak membuatnya menjauh dari dunia yang sejak kecil telah ia tekuni. Sebaliknya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar untuk memperbaiki diri.

Karena itu, gelar juara pertama pada Qiraat Murottal Sab’ah bukan sekadar tambahan prestasi. Bagi Queen, kemenangan tersebut menjadi pengingat bahwa kegagalan pada satu kesempatan tidak menentukan akhir perjalanan seseorang.

Selama masih bersedia belajar, mencoba kembali, dan memperbaiki kekurangan, jalan lain tetap terbuka.

Bagi Queen, kedekatannya dengan dunia MTQ juga tidak berhenti pada perlombaan. Momentum Hari Santri Nasional ia maknai sebagai pengingat bahwa hubungan dengan Al-Qur’an seharusnya hadir dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan hanya pada momentum Hari Santri Nasional kita berlomba-lomba menyemarakkan Al-Qur’an. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga harus konsisten membaca, mempelajari kaidah-kaidahnya, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an,” pesannya.

Menatap MTQ Jawa Timur

Juara pertama tidak membuat Queen merasa perjalanannya selesai. Ia justru menyiapkan langkah berikutnya. Queen bertekad melanjutkan pembinaan untuk menghadapi proses seleksi MTQ tingkat Provinsi Jawa Timur yang menjadi salah satu tahapan menuju kompetisi tingkat nasional.

Keinginannya sederhana tetapi kuat: terus belajar dan tetap berada di jalan yang sejak kecil telah ia pilih.

Pengalaman berpindah dari Syarhil Qur’an ke Qiraat Murottal Sab’ah juga mengajarkannya bahwa keberanian mencoba sesuatu yang baru terkadang membuka pintu yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Pesan itulah yang ingin ia bagikan kepada mahasiswa lain.

“Jangan pernah takut untuk mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman. Sesuatu yang indah membutuhkan proses dan perjuangan. Teruslah mencoba hal-hal positif, baik untuk diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar,” pungkasnya.

Perjalanan Queen memperlihatkan bahwa sebuah prestasi jarang lahir dalam satu malam. Di belakang piala dan gelar juara, ada waktu yang dikorbankan, kegagalan yang diterima, kesibukan yang harus dibagi, serta keberanian untuk tetap mencoba.

Dari latihan setiap akhir pekan hingga enam riwayat yang terus diulang, Queen membuktikan bahwa ketekunan dapat membawa seseorang melewati batas yang semula terasa asing.

Dan bagi mahasiswa baru Fakultas Dakwah itu, juara pertama mungkin bukan akhir perjalanan. Ia baru saja membuka halaman berikutnya. (*)

Penulis: Rizky Hidayatullah
Foto: Rizky Hidayatullah
Editor: Abdul Choliq, Firdaus Dwi Cahyo

Berita Terbaru