Otoritas Dakwah Terdisrupsi, Prof Inung Ungkap 4 Tantangan di Era Digital

21 September 2026, 19:32 | Admin Dakwah | 232 hits | Akademik

JEMBER, MEDIACEN FADA – Perubahan teknologi digital tidak hanya mengubah cara orang berkomunikasi. Dunia dakwah juga menghadapi tantangan baru, mulai dari runtuhnya otoritas keilmuan hingga derasnya perang informasi berbasis algoritma.

 

Persoalan itu menjadi salah satu bahasan dalam Studium Generale Fakultas Dakwah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember di Gedung Kuliah Terpadu (GKT), Senin (21/9/2026). Mengusung tema “Menjaga Fitrah di Era Disrupsi: Dakwah Transformatif sebagai Benteng Moderasi Beragama”, kegiatan tersebut diikuti oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Dakwah.

 

Salah satu narasumber, Prof. Dr. H. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., membedah perubahan besar dalam dunia dakwah melalui materi “Disrupsi Otoritas dan Pergeseran Demografi Dakwah”. Ia mengungkap sedikitnya empat tantangan utama dakwah di era digital. Yakni, runtuhnya kepakaran, perang informasi berbasis algoritma, radikalisme agama yang semakin adaptif dan tersamar, serta dominasi narasi digital terhadap tradisi keilmuan.

 

Menurut Inung, panggilan akrab Zainul Hamdi, perkembangan media sosial telah menciptakan ruang baru bagi penyebaran informasi keagamaan. Kondisi itu menuntut masyarakat, terutama generasi muda, semakin cermat dalam menerima dan menyebarkan informasi.

 

Karena itu, menghadapi perkembangan teknologi tidak cukup dengan pendekatan larangan.

“Pilihan untuk melarang anak tidak menggunakan media sosial itu pilihan yang mustahil, tetapi kita bisa lebih bijak dalam bermedia sosial,” ujar Inung.

 

Pernyataan itu menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan sekadar bagaimana menjauhkan generasi muda dari media sosial, melainkan bagaimana membangun kemampuan mereka menggunakan ruang digital secara kritis dan bertanggung jawab.

 

Dakwah Harus Adaptif

Di tengah perubahan pola konsumsi informasi, dakwah juga dituntut mampu beradaptasi. Media sosial telah menjadi ruang yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat, termasuk dalam mencari pengetahuan dan informasi keagamaan.

 

Karena itu, kemampuan memahami karakter media digital menjadi penting agar pesan dakwah tetap relevan tanpa kehilangan landasan keilmuan.

 

Studium Generale tersebut digelar sebagai bagian dari upaya Fakultas Dakwah memberikan wawasan kepada sivitas akademika dalam menghadapi perubahan zaman sekaligus memperkuat pemahaman tentang dakwah transformatif dan moderasi beragama.

 

Selain Inung, kegiatan ini  juga menghadirkan Nadia Maria, S.Psi., sebagai narasumber kedua. Acara berlangsung dalam tiga sesi. Dua sesi pertama diisi penyampaian materi dari masing-masing narasumber, kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab bersama peserta.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami tantangan dakwah di tengah disrupsi teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan menyikapi perkembangan media sosial secara lebih bijak.

 

Penulis: Nurul Masitoh Karimah
Fotografer: Muhammad Dafa Saputra

Editor: Abdul Choliq, Firdaus Dwi Cahyo

Berita Terbaru