JEMBER, MEDIACEN FADA – Perubahan
teknologi digital tidak hanya mengubah cara orang berkomunikasi. Dunia dakwah
juga menghadapi tantangan baru, mulai dari runtuhnya otoritas keilmuan hingga
derasnya perang informasi berbasis algoritma.
Persoalan itu menjadi salah satu bahasan dalam Studium Generale Fakultas
Dakwah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember di Gedung Kuliah Terpadu
(GKT), Senin (21/9/2026). Mengusung tema “Menjaga Fitrah di Era Disrupsi:
Dakwah Transformatif sebagai Benteng Moderasi Beragama”, kegiatan tersebut
diikuti oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Dakwah.
Salah satu narasumber, Prof. Dr. H. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., membedah
perubahan besar dalam dunia dakwah melalui materi “Disrupsi Otoritas dan
Pergeseran Demografi Dakwah”. Ia mengungkap sedikitnya empat tantangan utama
dakwah di era digital. Yakni, runtuhnya kepakaran, perang informasi berbasis algoritma,
radikalisme agama yang semakin adaptif dan tersamar, serta dominasi narasi
digital terhadap tradisi keilmuan.
Menurut Inung, panggilan akrab Zainul Hamdi, perkembangan media sosial
telah menciptakan ruang baru bagi penyebaran informasi keagamaan. Kondisi itu
menuntut masyarakat, terutama generasi muda, semakin cermat dalam menerima dan
menyebarkan informasi.
Karena itu, menghadapi perkembangan teknologi tidak cukup dengan
pendekatan larangan.
“Pilihan untuk melarang anak tidak menggunakan media sosial itu pilihan
yang mustahil, tetapi kita bisa lebih bijak dalam bermedia sosial,” ujar Inung.
Pernyataan itu menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan sekadar
bagaimana menjauhkan generasi muda dari media sosial, melainkan bagaimana
membangun kemampuan mereka menggunakan ruang digital secara kritis dan
bertanggung jawab.
Dakwah Harus Adaptif
Di tengah perubahan pola konsumsi informasi, dakwah juga dituntut mampu
beradaptasi. Media sosial telah menjadi ruang yang sulit dipisahkan dari
kehidupan masyarakat, termasuk dalam mencari pengetahuan dan informasi
keagamaan.
Karena itu, kemampuan memahami karakter media digital menjadi penting
agar pesan dakwah tetap relevan tanpa kehilangan landasan keilmuan.
Studium Generale tersebut digelar sebagai bagian dari upaya Fakultas
Dakwah memberikan wawasan kepada sivitas akademika dalam menghadapi perubahan
zaman sekaligus memperkuat pemahaman tentang dakwah transformatif dan moderasi
beragama.
Selain Inung, kegiatan ini juga menghadirkan
Nadia Maria, S.Psi., sebagai narasumber kedua. Acara berlangsung dalam tiga
sesi. Dua sesi pertama diisi penyampaian materi dari masing-masing narasumber,
kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab bersama peserta.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami
tantangan dakwah di tengah disrupsi teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan
menyikapi perkembangan media sosial secara lebih bijak.
Penulis:
Nurul Masitoh Karimah
Fotografer: Muhammad Dafa Saputra
Editor: Abdul Choliq, Firdaus Dwi Cahyo