JEMBER,
MEDIACEN FADA – Menjadi content creator bukan sekadar
mengejar viral atau banyak pengikut. Kreator juga perlu mengenali dirinya,
memahami audiens, memiliki keahlian yang kuat, serta konsisten menghasilkan
karya yang memberi dampak.
Pesan itu
disampaikan fotografer profesional sekaligus content creator Nasution
Patriotik saat berbagi pengalaman dengan mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Kiai
Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Selasa (22/9/2026).
Hadir dalam
kegiatan Bakat dan Minat Mahasiswa di Gedung Kuliah Terpadu (GKT), Nasution
membagikan lima kunci bagi mahasiswa yang ingin serius berkarya di media
sosial.
Nasution
bukan nama asing di jagat media sosial. Dalam materi kegiatan, ia disebut
memiliki lebih dari 5,9 juta pengikut di TikTok, 2,1 juta pengikut di
Instagram, serta lebih dari 1,4 juta pelanggan di YouTube.
Pengalaman
membangun audiens itulah yang kemudian ia bagikan kepada mahasiswa.
Pertama, kenali diri sebelum membangun personal branding. Kunci
pertama disebut Nasution sebagai “The Man Behind the Gun”. Sebelum
sibuk membangun personal branding, seorang kreator harus terlebih dahulu
memahami siapa dirinya.
Mulai dari
mengenali kemampuan, kelebihan, minat, hingga mengetahui bagaimana orang lain
melihat dirinya. Proses itu dapat dilakukan melalui riset, refleksi, dan
reafirmasi. Dengan mengenali diri, seorang kreator akan lebih mudah menentukan
karakter yang ingin ditampilkan kepada publik.
Kedua, jangan jadi serba bisa, bangun spesialisasi. Kunci
berikutnya adalah menjadi spesialis. Nasution mendorong mahasiswa
memilih bidang yang sesuai dengan minat dan kemampuan, kemudian menekuninya
secara konsisten.
Spesialisasi
bukan berarti kreator tidak boleh berkembang. Justru setelah memiliki pijakan
yang kuat, kreator dapat memperluas topik, meningkatkan kualitas karya, hingga
membangun kolaborasi. Konsistensi menjadi penting agar audiens memiliki alasan
untuk mengenali dan mengingat karakter seorang kreator.
Ketiga, jangan hanya buat konten yang kita suka. Ini salah satu
pesan penting yang disampaikan Nasution. Menurutnya, kreator tidak cukup
membuat konten berdasarkan selera pribadi. Mereka juga perlu memahami apa yang
dibutuhkan dan diminati audiens.
Artinya,
seorang kreator perlu belajar membaca siapa orang yang ingin dijangkau oleh
kontennya.
Konten yang
baik diharapkan mampu membawa audiens melalui proses mengenal, menyukai, hingga
akhirnya mempercayai kreator tersebut.
Di titik
inilah kreativitas perlu bertemu dengan kemampuan membaca kebutuhan pasar.
Keempat, cerita Lebih dari Sekadar Kata-kata. Konten yang menarik juga
membutuhkan kemampuan bercerita atau storytelling. Menurut Nasution,
cerita bukan sekadar rangkaian kata. Sebuah konten perlu mampu memberikan
pengalaman kepada audiens.
Pesan yang
dikemas dengan cerita yang kuat akan lebih mudah diterima dan diingat
dibandingkan sekadar menyajikan informasi. Karena itu, kemampuan menyusun
cerita menjadi salah satu bekal penting bagi mahasiswa yang ingin terjun ke
dunia kreatif digital.
Kelima, konsisten, berani mencoba, jangan takut gagal. Kunci terakhir adalah
membangun eksistensi yang matang. Tidak ada formula yang selalu langsung
berhasil. Kreator harus berani melakukan trial and error, mengevaluasi
karya, lalu mencoba lagi.
Nasution
juga mengingatkan pentingnya membuat hook yang menarik. Bagian awal sebuah
konten harus mampu memancing perhatian audiens agar mereka tertarik melanjutkan
menonton atau membaca. Namun, semua itu membutuhkan proses.
Karena itu,
ia meminta mahasiswa tidak menunggu semuanya sempurna untuk mulai berkarya. “Langsung
mulai saja jadi content creator, jangan takut untuk mencoba. Saya tunggu
ketika bertemu lagi, kalian sudah melebihi dari saya,” ujar Nasution.
Mulai Dulu, Nikmati Prosesnya
Bagi
Nasution, keberanian memulai menjadi modal penting bagi calon kreator.
Kemampuan
tidak tumbuh dalam semalam. Dibutuhkan kesabaran, konsistensi, kemauan belajar,
serta keberanian mengevaluasi karya yang sudah dibuat.
Pesan
tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa Fakultas Dakwah yang hidup di tengah
perkembangan industri kreatif dan media digital yang semakin cepat.
Melalui
kegiatan Bakat dan Minat Mahasiswa, peserta tidak hanya memperoleh gambaran
tentang peluang menjadi content creator, tetapi juga memahami bahwa
membangun pengaruh di media sosial membutuhkan strategi dan proses panjang.
Pada akhirnya,
menjadi kreator bukan sekadar tentang seberapa banyak orang yang mengikuti akun
kita. Lebih penting lagi, apa yang dapat diberikan melalui setiap konten yang
kita hasilkan.
Penulis: Amaliyatul Khoiroh
Fotografer: Lukman
Editor: Abdul Choliq, Firdaus Dwi Cahyo