Bukan Cuma Viral, Ini 5 Bekal jadi Kreator Konten Berdampak

22 September 2026, 21:15 | Admin Dakwah | 219 hits | Akademik

JEMBER, MEDIACEN FADA – Menjadi content creator bukan sekadar mengejar viral atau banyak pengikut. Kreator juga perlu mengenali dirinya, memahami audiens, memiliki keahlian yang kuat, serta konsisten menghasilkan karya yang memberi dampak.

 

Pesan itu disampaikan fotografer profesional sekaligus content creator Nasution Patriotik saat berbagi pengalaman dengan mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Selasa (22/9/2026).

 

Hadir dalam kegiatan Bakat dan Minat Mahasiswa di Gedung Kuliah Terpadu (GKT), Nasution membagikan lima kunci bagi mahasiswa yang ingin serius berkarya di media sosial.

Nasution bukan nama asing di jagat media sosial. Dalam materi kegiatan, ia disebut memiliki lebih dari 5,9 juta pengikut di TikTok, 2,1 juta pengikut di Instagram, serta lebih dari 1,4 juta pelanggan di YouTube.

 

Pengalaman membangun audiens itulah yang kemudian ia bagikan kepada mahasiswa.

Pertama, kenali diri sebelum membangun personal branding. Kunci pertama disebut Nasution sebagai “The Man Behind the Gun”. Sebelum sibuk membangun personal branding, seorang kreator harus terlebih dahulu memahami siapa dirinya.

 

Mulai dari mengenali kemampuan, kelebihan, minat, hingga mengetahui bagaimana orang lain melihat dirinya. Proses itu dapat dilakukan melalui riset, refleksi, dan reafirmasi. Dengan mengenali diri, seorang kreator akan lebih mudah menentukan karakter yang ingin ditampilkan kepada publik.

 

Kedua, jangan jadi serba bisa, bangun spesialisasi. Kunci berikutnya adalah menjadi spesialis. Nasution mendorong mahasiswa memilih bidang yang sesuai dengan minat dan kemampuan, kemudian menekuninya secara konsisten.

 

Spesialisasi bukan berarti kreator tidak boleh berkembang. Justru setelah memiliki pijakan yang kuat, kreator dapat memperluas topik, meningkatkan kualitas karya, hingga membangun kolaborasi. Konsistensi menjadi penting agar audiens memiliki alasan untuk mengenali dan mengingat karakter seorang kreator.

 

Ketiga, jangan hanya buat konten yang kita suka. Ini salah satu pesan penting yang disampaikan Nasution. Menurutnya, kreator tidak cukup membuat konten berdasarkan selera pribadi. Mereka juga perlu memahami apa yang dibutuhkan dan diminati audiens.

Artinya, seorang kreator perlu belajar membaca siapa orang yang ingin dijangkau oleh kontennya.

 

Konten yang baik diharapkan mampu membawa audiens melalui proses mengenal, menyukai, hingga akhirnya mempercayai kreator tersebut.

Di titik inilah kreativitas perlu bertemu dengan kemampuan membaca kebutuhan pasar.

 

Keempat, cerita Lebih dari Sekadar Kata-kata. Konten yang menarik juga membutuhkan kemampuan bercerita atau storytelling. Menurut Nasution, cerita bukan sekadar rangkaian kata. Sebuah konten perlu mampu memberikan pengalaman kepada audiens.

 

Pesan yang dikemas dengan cerita yang kuat akan lebih mudah diterima dan diingat dibandingkan sekadar menyajikan informasi. Karena itu, kemampuan menyusun cerita menjadi salah satu bekal penting bagi mahasiswa yang ingin terjun ke dunia kreatif digital.

 

Kelima, konsisten, berani mencoba, jangan takut gagal. Kunci terakhir adalah membangun eksistensi yang matang. Tidak ada formula yang selalu langsung berhasil. Kreator harus berani melakukan trial and error, mengevaluasi karya, lalu mencoba lagi.

 

Nasution juga mengingatkan pentingnya membuat hook yang menarik. Bagian awal sebuah konten harus mampu memancing perhatian audiens agar mereka tertarik melanjutkan menonton atau membaca. Namun, semua itu membutuhkan proses.

 

Karena itu, ia meminta mahasiswa tidak menunggu semuanya sempurna untuk mulai berkarya. “Langsung mulai saja jadi content creator, jangan takut untuk mencoba. Saya tunggu ketika bertemu lagi, kalian sudah melebihi dari saya,” ujar Nasution.

 

Mulai Dulu, Nikmati Prosesnya

 

Bagi Nasution, keberanian memulai menjadi modal penting bagi calon kreator.

Kemampuan tidak tumbuh dalam semalam. Dibutuhkan kesabaran, konsistensi, kemauan belajar, serta keberanian mengevaluasi karya yang sudah dibuat.

 

Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa Fakultas Dakwah yang hidup di tengah perkembangan industri kreatif dan media digital yang semakin cepat.

 

Melalui kegiatan Bakat dan Minat Mahasiswa, peserta tidak hanya memperoleh gambaran tentang peluang menjadi content creator, tetapi juga memahami bahwa membangun pengaruh di media sosial membutuhkan strategi dan proses panjang.

 

Pada akhirnya, menjadi kreator bukan sekadar tentang seberapa banyak orang yang mengikuti akun kita. Lebih penting lagi, apa yang dapat diberikan melalui setiap konten yang kita hasilkan.

 

Penulis: Amaliyatul Khoiroh
Fotografer: Lukman

Editor: Abdul Choliq, Firdaus Dwi Cahyo

Berita Terbaru