Kunci Raup Cuan dari YouTube Versi Imam Januar: Jangan Gengsi!

23 September 2026, 21:35 | Admin Dakwah | 249 hits | Akademik

JEMBER, MEDICEN FADA – Siapa bilang menjadi content creator harus bermodal kamera mahal dan perangkat canggih? Imam Januar justru memulai perjalanan digitalnya hanya dengan sebuah ponsel Android Redmi 5.

Dari perangkat sederhana itu, ia membangun karier di dunia konten digital hingga mampu menjadikan YouTube sebagai salah satu sumber penghasilan.

Kisah tersebut dibagikan Imam Januar saat menjadi pemateri pada hari kedua Pelatihan Pengembangan Bakat dan Minat Mahasiswa di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) UIN KHAS Jember, Rabu (23/9/2026).

Di hadapan peserta, Imam membagikan pengalaman sekaligus strategi memanfaatkan platform digital untuk membangun peluang ekonomi di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. “Jangan gengsi dan jangan berpikir harus sama dengan yang lain,” tegas Imam.

Pesan itu bukan tanpa alasan. Imam mengaku mulai menekuni dunia digital sejak 2017 dengan peralatan yang jauh dari kata mewah. Baginya, keterbatasan perangkat bukan alasan untuk menunda berkarya.

Konsistensi, kreativitas, dan keberanian memulai justru menjadi modal penting bagi seseorang yang ingin berkembang sebagai kreator.

Jangan Hanya Mengejar Uang

Imam juga menekankan pentingnya membangun pola pikir produktif. Menurutnya, seseorang perlu menciptakan sesuatu yang memiliki nilai sehingga dapat mendatangkan peluang ekonomi.

Alih-alih terus-menerus mengejar uang, seorang kreator perlu membangun karya, keterampilan, dan ekosistem yang memungkinkan penghasilan datang dari sesuatu yang telah diciptakannya.

Pengalamannya dalam berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan media sosial juga menarik peserta dari berbagai daerah. Imam menyebut ada orang yang datang dari Jakarta, Maluku, hingga Papua untuk mempelajari pengelolaan media sosial secara langsung darinya.

YouTube Masih Punya Peluang Besar

Memasuki 2026, Imam menilai YouTube masih menyimpan peluang besar bagi masyarakat yang ingin mengembangkan kreativitas sekaligus memperoleh penghasilan melalui platform digital. Namun, peluang tersebut tidak akan berarti apabila hanya ditunggu.

Menurut Imam, masa depan seseorang sangat dipengaruhi oleh keputusan yang dibuat hari ini: apakah menciptakan peluang, memanfaatkan peluang yang tersedia, atau sekadar menunggunya datang.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa agar tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan dunia digital, tetapi berani mengambil bagian sebagai kreator.

Imam juga menyoroti besarnya pengguna YouTube di Indonesia sebagai potensi pasar bagi para pembuat konten. Besarnya jumlah pengguna tersebut, menurutnya, membuka ruang yang luas bagi kreator untuk menemukan audiens sesuai dengan karakter dan bidang kontennya.

Sebelum Cari Cuan, Pahami Literasi Digital

Meski menawarkan peluang ekonomi, terjun ke dunia digital tidak cukup hanya bermodal kemampuan membuat video.

Imam mengingatkan pentingnya memahami empat pilar literasi digital, yakni kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Aspek keamanan menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian. Pengguna internet harus memahami risiko kejahatan siber, termasuk bahaya mengunduh aplikasi atau berkas APK dari sumber yang tidak jelas.

Pemahaman tersebut penting agar keinginan mendapatkan keuntungan dari dunia digital tidak justru membuat pengguna terjebak dalam berbagai risiko keamanan.

Empat Tipe Kreator YouTube

Dalam pemaparannya, Imam juga membagi kreator YouTube berdasarkan tujuan mereka membuat konten.

Ada yang menggunakan YouTube sebagai sarana dokumentasi, membangun portofolio pribadi, memperkuat personal branding, hingga menjadikannya sebagai sumber penghasilan.

Apa pun tujuannya, Imam menegaskan satu prinsip penting: kreator harus memiliki sesuatu yang bernilai untuk ditawarkan kepada audiens.

“Yang dijual bukan videonya, tetapi konten atau nilai (value) yang terkandung di dalamnya,” pungkas Imam.

Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa keberhasilan di dunia digital tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan alat. Ide, konsistensi, kreativitas, dan nilai yang diberikan kepada audiens justru menjadi fondasi penting bagi kreator yang ingin bertahan dan berkembang.

Penulis: Nurul Masitoh Karimah
Fotografer: Qotrun Nada Mufarrohah
Editor: Abdul Choliq, Firdaus Dwi Cahyo

Berita Terbaru