JEMBER,
MEDICEN FADA – Siapa
bilang menjadi content creator harus bermodal kamera mahal dan perangkat
canggih? Imam Januar justru memulai perjalanan digitalnya hanya dengan sebuah
ponsel Android Redmi 5.
Dari
perangkat sederhana itu, ia membangun karier di dunia konten digital hingga
mampu menjadikan YouTube sebagai salah satu sumber penghasilan.
Kisah
tersebut dibagikan Imam Januar saat menjadi pemateri pada hari kedua Pelatihan
Pengembangan Bakat dan Minat Mahasiswa di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) UIN KHAS
Jember, Rabu (23/9/2026).
Di
hadapan peserta, Imam membagikan pengalaman sekaligus strategi memanfaatkan
platform digital untuk membangun peluang ekonomi di tengah perkembangan
teknologi yang semakin pesat. “Jangan gengsi dan jangan berpikir harus sama
dengan yang lain,” tegas Imam.
Pesan itu
bukan tanpa alasan. Imam mengaku mulai menekuni dunia digital sejak 2017 dengan
peralatan yang jauh dari kata mewah. Baginya, keterbatasan perangkat bukan
alasan untuk menunda berkarya.
Konsistensi,
kreativitas, dan keberanian memulai justru menjadi modal penting bagi seseorang
yang ingin berkembang sebagai kreator.
Jangan Hanya Mengejar Uang
Imam juga
menekankan pentingnya membangun pola pikir produktif. Menurutnya, seseorang
perlu menciptakan sesuatu yang memiliki nilai sehingga dapat mendatangkan
peluang ekonomi.
Alih-alih
terus-menerus mengejar uang, seorang kreator perlu membangun karya,
keterampilan, dan ekosistem yang memungkinkan penghasilan datang dari sesuatu
yang telah diciptakannya.
Pengalamannya
dalam berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan media sosial juga menarik
peserta dari berbagai daerah. Imam menyebut ada orang yang datang dari Jakarta,
Maluku, hingga Papua untuk mempelajari pengelolaan media sosial secara langsung
darinya.
YouTube Masih Punya Peluang Besar
Memasuki
2026, Imam menilai YouTube masih menyimpan peluang besar bagi masyarakat yang
ingin mengembangkan kreativitas sekaligus memperoleh penghasilan melalui
platform digital. Namun, peluang tersebut tidak akan berarti apabila hanya
ditunggu.
Menurut
Imam, masa depan seseorang sangat dipengaruhi oleh keputusan yang dibuat hari
ini: apakah menciptakan peluang, memanfaatkan peluang yang tersedia, atau
sekadar menunggunya datang.
Karena
itu, ia mendorong mahasiswa agar tidak hanya menjadi penonton dalam
perkembangan dunia digital, tetapi berani mengambil bagian sebagai kreator.
Imam juga
menyoroti besarnya pengguna YouTube di Indonesia sebagai potensi pasar bagi
para pembuat konten. Besarnya jumlah pengguna tersebut, menurutnya, membuka
ruang yang luas bagi kreator untuk menemukan audiens sesuai dengan karakter dan
bidang kontennya.
Sebelum Cari Cuan, Pahami Literasi Digital
Meski
menawarkan peluang ekonomi, terjun ke dunia digital tidak cukup hanya bermodal
kemampuan membuat video.
Imam
mengingatkan pentingnya memahami empat pilar literasi digital, yakni kecakapan
digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.
Aspek
keamanan menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian. Pengguna internet
harus memahami risiko kejahatan siber, termasuk bahaya mengunduh aplikasi atau
berkas APK dari sumber yang tidak jelas.
Pemahaman
tersebut penting agar keinginan mendapatkan keuntungan dari dunia digital tidak
justru membuat pengguna terjebak dalam berbagai risiko keamanan.
Empat Tipe Kreator YouTube
Dalam
pemaparannya, Imam juga membagi kreator YouTube berdasarkan tujuan mereka
membuat konten.
Ada yang
menggunakan YouTube sebagai sarana dokumentasi, membangun portofolio pribadi,
memperkuat personal branding, hingga menjadikannya sebagai sumber
penghasilan.
Apa pun
tujuannya, Imam menegaskan satu prinsip penting: kreator harus memiliki sesuatu
yang bernilai untuk ditawarkan kepada audiens.
“Yang
dijual bukan videonya, tetapi konten atau nilai (value) yang terkandung
di dalamnya,” pungkas Imam.
Pesan
tersebut menjadi penekanan bahwa keberhasilan di dunia digital tidak
semata-mata ditentukan oleh kecanggihan alat. Ide, konsistensi, kreativitas,
dan nilai yang diberikan kepada audiens justru menjadi fondasi penting bagi
kreator yang ingin bertahan dan berkembang.
Penulis: Nurul Masitoh Karimah
Fotografer: Qotrun Nada Mufarrohah
Editor: Abdul Choliq, Firdaus Dwi Cahyo